ALINEANEWS.COM – Ahli Bidang Komunikasi Politik dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Profesor Karim Suryadi menilai Pulau Bangka adalah contoh akulturasi budaya yang nyata di Indonesia.
Menurutnya, masyarakat Bangka dapat hidup nyaman dan berdampingan, meski berbeda suku, agama, dan budaya.
Hal ini membuat Pulau Bangka terkenal dengan daerah yang minim konflik karena perbedaan budaya.
“Kualitas komunikasi yang baik tidak hanya tentang durasinya, tetapi pada perencanaan dan penghargaan terhadap perbedaan budaya,” kata Prof Karim saat menjadi pembicara di kelas internasional, kerja sama UBB dan Eurasia Foundation di Balai Besar Peradaban, Kamis (7/9/2023).
Ada 70 mahasiswa yang ikut dalam agenda tersebut.
Mereka mendapat pengetahun lebih dalam, tentang pentingnya komunikasi antarbudaya, sebagai bagian upaya membangun perdamaian di Komunitas Asia.
Tema pekan kedua kelas internasional ini adalah “Cross Culture Communication for Establishment of Peace in Asian Community” (Komunikasi Antarbudaya untuk Membangun Perdamaian di Komunitas Asia).
Profesor Karim Suryadi menambahkan, manusia, meskipun terlahir dengan anatomi yang serupa, namun membentuk budaya yang beragam, dan terpengaruh oleh lingkungan di sekitarnya.
Diversitas budaya tersebut, yang biasa disebut multikulturalisme, dapat memunculkan perbedaan pendapat dan potensi konflik.
Dikatakan Prof Karim, komunikasi antarbudaya melibatkan insting manusia untuk beradaptasi dan menciptakan zona nyaman bersama sebagai bentuk kesepakatan dalam menghadapi keberagaman budaya yang ada.








