Dampak Tambang Ilegal, Konflik Masyarakat Dengan Buaya Di Bangka Belitung Meningkat

ALINEANEWS.COM – Konflik buaya dan manusia saat ini sering marak terjadi di Provinsi Bangka belitung, dikarenakan hancurnya habitat buaya yang sudah dimasuki tambangan ilegal.

Tim Garda Animalia Universitas Muhammadiyah Bayu Nanda mengatakan, Terdata ada 67 kasus serangan buaya yang ada di Bangka belitung dari kurun waktu 2013-2023.

“Jumlah serangan buaya ini bisa saja lebih dari data yang ditemukan dilapangan, banyak yang tidak terekspos Media, terdata 40 kasus korban yang meninggal dunia dari 67 serangan buaya tersebut,” kata Nanda, saat diskusi publik di Universitas Muhammadiyah Bangka belitung, Rabu (28/02/2024).

Bayu mengungkapkan, bahwa serangan buaya ini diakibatkan karena rusaknya lingkungan habitat buaya dan hutan mangrove yang disebabkan oleh tambang ilegal.

Serta, ketersediaan makanan yang semakin berkurang dikarenakan dampak dari kerusakan lingkungan tersebut.

“Serangan buaya yang marak terjadi di wilayah bangka belitung ini pada dasarnya dikarenakan rusaknya lingkungan habitat buaya dan hutan mangrove, hal ini disebabkan oleh tambang ilegal yang semakin bertambah, menjadikan ketersedian makanan seperti ikan, udang menjadi berkurang, sehingga perlu ada solusi untuk meminalisir konflik tersebut,” Imbuhnya.

Selanjutnya, Ketua PPS Alobi Foundation Langka Sani menambahkan, Pada dasarnya buaya adalah satwa liar yang sifatnya teritorial.

Jika habitat mereka diganggu oleh penambang, untuk itu, terkadang mereka membalas, sehingga dibeberapa kasus yang terjadi, sering sekali buaya memasuki kawasan pantai, hingga pemukiman warga, sehingga dengan kerusakan siklus ini dapat merubah prilaku mereka menjadi berbeda.

“Berbicara tentang buaya muara (Crocodylus Porosus) memang pada habitatnya berada di muara, apalagi sekarang hutan mangrove kita ini sudah banyak dimasuki oleh tambang-tambang ilegal, sehingga menjadikan habitat buaya terganggu, jika habitat mereka terganggu terkadang mereka membalas kepada masyarakat, sehingga dibeberapa kasus yang terjadi sering sekali buaya masuk kawasan pantai, hingga pemukiman warga, sehingga menjadikan perubahan prilaku buaya yang agresif dikarenakan rusaknya habitat mereka,” Sambungnya.

Untuk sementara, Penting untuk kita informasikan kepada masyarakat agar mengetahui siklus jam beraktifitas satwa liar tersebut, apalagi mengingat dimusim sekarang adalah masa produktif buaya untuk bertelur.

Ia berharap, pemerintah dapat sesegera mungkin menentukan mitigasi untuk mencegah korban serangan buaya ditahun 2024 dan seterusnya.

“Langkah sementara yang dapat dilakukan adalah mensosialisasikan kepada masyarakat, Penting untuk kita mengingat serta menginformasikan kepada masyarakat agar mengetahui jam beraktifitas buaya, biasanya dimulai dari pukul 17.00 hingga malam hari, ingatkan kepada masyarakat, untuk tidak melakukan aktifitas didekat sungai yang ada buayanya, apalagi dimusim sekarang sudah memasuki masa produktif buaya untuk bertelur, biasanya mereka akan agresif, apalagi yang dirusak adalah habitatnya, untuk itu saya harap pemerintah dapat sesegera mungkin untuk menentukan mitigasi agar mencegah korban serangan buaya tidak bertambah,” Pungkas Langkasani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *