PANGKALPINANG – Pelaku usaha ekonomi kreatif di Kota Pangkalpinang didorong untuk tidak sekadar mengandalkan kualitas produk, tetapi juga mampu berinovasi dalam pengemasan dan pemasaran digital agar semakin kompetitif di tengah perkembangan teknologi.
Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin, menilai kreativitas dalam mengemas produk dan memanfaatkan platform digital menjadi salah satu kunci penting untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan omzet pelaku usaha lokal.
Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pelatihan Start Jadi Gen Matic yang berkolaborasi dengan TikTok Shop dan Tokopedia, diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif RI bersama Dinas Pariwisata Kota Pangkalpinang di Swiss-Belhotel Pangkalpinang, Selasa (27/10/2026) pagi.
Saparudin berharap kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan digital, serta memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai peluang untuk mengembangkan usaha.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi telah mengalami perubahan yang sangat pesat. Jika dahulu pembuatan situs web dan aplikasi membutuhkan proses panjang serta biaya yang relatif mahal, kini berbagai teknologi digital semakin mudah diakses oleh masyarakat.
Ia mengaku telah mengenal dunia komputer sejak 2001, ketika perangkat teknologi masih memiliki keterbatasan dibandingkan dengan teknologi yang tersedia saat ini.
Perkembangan tersebut kemudian berlanjut melalui hadirnya teknologi seluler, berbagai platform digital, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang semakin banyak dimanfaatkan generasi muda.
Menurutnya, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk berkreasi dan berinovasi. Teknologi tidak cukup hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga perlu dimanfaatkan untuk menciptakan nilai tambah bagi produk dan usaha.
“Sekarang teknologi berkembang sangat cepat. Karena itu, kita harus mampu berkreasi dan berinovasi. Bagaimana kita mengemas sesuatu agar lebih menarik sehingga memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasaran,” katanya.
Ia mencontohkan produk kuliner lokal seperti getas yang memiliki potensi untuk dikembangkan, tidak hanya dari segi rasa, tetapi juga melalui desain kemasan yang lebih menarik.
Menurut Saparudin, produk lokal yang berkualitas akan semakin memiliki daya tarik apabila didukung dengan tampilan kemasan yang baik dan strategi pemasaran yang tepat.
“Kalau kita melihat produk kuliner seperti getas, kemasannya masih bisa dikembangkan dengan kreativitas yang lebih menarik. Padahal, kemasan juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan daya tarik produk,” ungkapnya.
Ia berharap para pelaku ekonomi kreatif dapat memanfaatkan pelatihan tersebut untuk menemukan ide-ide baru, memperkuat identitas produk, serta meningkatkan kemampuan dalam memasarkan produk melalui media digital.
102 Peserta Didorong Kuasai Konten Digital
Pelatihan Start Jadi Gen Matic diikuti sebanyak 102 peserta yang akan mendapatkan pembelajaran mengenai pembuatan konten digital untuk mendukung promosi produk dan pengembangan usaha.
Dalam kegiatan ini, peserta akan mengikuti sesi praktik pembuatan konten dengan bimbingan narasumber dari TikTok. Peserta juga akan tergabung dalam sebuah grup selama tiga bulan untuk berbagi pengalaman, mengembangkan kreativitas, dan meningkatkan kemampuan dalam membuat konten pemasaran.
Saparudin berharap seluruh peserta mengikuti kegiatan tersebut secara serius agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung dalam pengembangan usaha masing-masing.
Ia juga berharap dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif RI dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Pangkalpinang melalui penguatan kreativitas dan inovasi para pelaku usaha.
“Kami berharap melalui kegiatan ini, produk-produk ekonomi kreatif di Pangkalpinang semakin berkembang, kreativitas masyarakat semakin meningkat, dan pada akhirnya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha,” tuturnya.







