Komisioner KPU Pangkalpinang Margarita Ingatkan Mahasiswa Jangan Terkecoh Konten Hoaks Jelang Pemilu 2024

ALINEANEWS.COM – Pemilih muda masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) terbesar, yang mencapai 56 persen pada Pemilu 2024.

Porsi yang paling banyak ditempati pemilih berusia 17-29 tahun dan 30-40 tahun, atau dikenal dengan generasi Z dan milenial.

Sebaran pemilih generasi Z yakni siswa SMA kelas tiga dan mahasiswa.

Berbekal kondisi itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pangkalpinang semakin gencar melakukan sosialisasi kepada generasi Z dan milenial.

Komisioner KPU Kota Pangkalpinang Margarita mengatakan generasi muda memberikan peran penting dalam suksesnya Pemilu 2024.

“Penting bagi kita semua, memberikan bekal pemahaman pada pemilih pemula mengenai berbagai informasi tentang Pemilu 2024,” kata Margarita di Grand Manunggal Hotel Pangkalpinang, Sabtu (2/12/2023).

Mengambil tema Kampus Pemilu: Menjadi Pemilih Cerdas Dalam Pemilu 2024, KPU Pangkalpinang mengundang mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan di Bangka Belitung.

Menurut Margarita, sebagai agen perubahan, mahasiswa memiliki peran penting untuk suksesnya Pemilu 2024.

Dia berharap, melalui sosialisasi ini, mahasiswa mendapat pencerahan tentang Pemilu 2024 dan kerawanan isu kampanye di media sosial.

“Hoaks adalah tantangan kita bersama, bagaimana cara menangkalnya dan tidak tertipu oleh konten hoaks,” ujarnya.

Sementara narasumber dalam kegiatan itu adalah Kabid Pendidikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pangkalpinang yang juga Manajer Peliputan Bangka Pos, Alza Munzi.

Pada kesempatan itu, dia memaparkan tentang politik hoaks dalam Pemilu, yang dikemas secara masif.

Menurutnya, media sosial menjadi sarana yang paling banyak untuk penyebaran berita hoaks.

“Artinya kita harus hati-hati dengan konten dengan narasi judul yang bombastis dan sulit dicerna akal,” kata Alza.

Dia menyebutkan, mahasiswa merupakan pemilih muda yang menjadi bagian regenerasi untuk merawat demokrasi.

Saat ini, ujarnya, merupakan era post truth atau pascakebenaran yakni kebenaran berdasarkan emosional pribadi bukan subjektif rasionalitas.

“Padahal kita dituntut rasional, untuk membandingkan sesuatu. Karena dengan cara itulah, yang menandakan kita manusia berpikir dan berakal,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *