ALINEANEWS.COM – Tempaan orang tua telah membentuk karakter dan mental seorang Guid Cardi, menjadi sosok yang pantang menyerah dan tekun.
Sejak kecil, dia sudah terbiasa membantu orang tuanya di kebun, Dusun Penirokan, Kelapa Kampit, Belitung Timur.
Setamat sekolah dasar, dia bersekolah di SMP swasta yang jadwal masuknya siang hari.
“Karena pagi hari sampai sebelum jam 12, saya bantu ayah di kebun. Setelah itu pulang ke rumah, mandi lanjut ke sekolah,” ungkap Guid Cardi, Rabu (1/11/2023).
Membantu ayah di kebun dilakukan Guid sampai lulus SMP di Kelapa Kampit, Belitung Timur.
Saat itu era tahun 90-an, Pulau Belitung belum banyak kawasan yang mendapat akses listrik.
Salah satunya dusun tempat Guid Cardi tinggal bersama orang tua dan saudaranya yang lain.
Dia merasakan hidup tanpa aliran listrik PLN sampai tamat SMA pada tahun 1994.
“Kami terbiasa dengan api obor dan petromaks. Bisa bayangkan, api obor bahan bakarnya bukan minyak tanah tapi oli bekas,” ujarnya.
Saat pagi hari, dia sudah terbiasa wajah dan bagian hidungnya ditempeli abu api obor.
Kenangan masa kecil hingga remaja itu, membuat Guid Cardi terkadang tersenyum sendiri.
Pahit getir kehidupan masa kecilnya di Belitung Timur, tak membuatnya patah semangat.
Lulus SMA, dia kuliah di Universitas Sriwijaya Palembang.
Kemudian, seiring waktu kehidupan kampus membawanya senang dengan dunia politik.
Singkat cerita, pada 2003 dia terpilih sebagai anggota KPU Belitung Timur.
Tidak hanya satu periode, tapi dia dipercaya mengemban amanah sebagai komisioner KPU Belitung Timur pada periode kedua, yakni 2008-2013.
Setelah itu, dia mendaftar sebagai komisioner KPU Babel dan terpilih untuk periode 2013-2018.
Lalu, lanjut lagi pada periode kedua 2018-2023 di KPU Babel.
Artinya, selama 20 tahun ini, Guid Cardi berkecimpung di dunia penyelenggara pemilu.
Kini apa yang akan dilakukan Guid Cardi setelah tak lagi di KPU.
Meski sudah tak lagi di KPU, Guid tak mau disebut sebagai mantan.
Dia lebih senang dikatakan sebagai bekas komisioner KPU.
“Karena kalau mantan itu, terkesan ada luka, kesalahan yang kita tinggalkan. Tetapi bekas, kita ibaratkan botol bekas, masih bisa digunakan. Banyak yang mencari barang bekas,” ungkap Guid.
Guid tak mau berandai-andai, dia yakin suatu saat akan ditemukan sebagai botol bekas yang berguna dan bermanfaat untuk masyarakat.
Ucapan Guid Cardi itu cukup beralasan lantaran, setelah tak lagi di KPU, ada beberapa pengurus partai politik yang melamarnya.
“Semoga saya bisa memberikan yang terbaik sesuai kehendak Allah,” kata Guid.
Dia mengaku meski tak lagi di KPU, namun pengabdiannya tidak akan berakhir untuk masyarakat.
Saat ini, melalui Aksara Grup yang didirikannya sejak 10 tahun lalu, memberikan manfaat dalam bidang pendidikan.
Ribuan orang sudah lulus paket A, B, dan C di PKBM yang dikelola Aksara Grup di kawasan Bukit Merapin Pangkalpinang.
Bagi siswa yang tidak mampu, Guid Cardi tidak menarik biaya apapun alias gratis sampai dapat ijazah.













