ALINEANEWS.COM – Sungai Kurau di Kabupaten Bangka Tengah seiring waktu mengalami sedimentasi atau pedangkalan.
Alur sungai yang membelah Kurau Barat dan Kurau Timur, tidak lagi dalam seperti 30 tahun lalu.
Warna airnya pun berubah, menjadi keruh dengan campuran lumpur yang membuat sungai tak lagi jernih.
Padahal dulu, Sungai Kurau kerap jadi tempat anak-anak bermain air dan penduduk sekitar memancing ikan dan udang.
Diduga sedimentasi itu terjadi akibat lumpur dari aktivitas penambangan timah yang ada di bagian hulu.
Dampaknya adalah penduduk yang tinggal di tepi Sungai Kurau kerap mengalami kebanjiran jika air pasang ditambah turun hujan.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah akan melakukan relokasi warga yang terdampak.

Warga di Kurau Barat tersebut akan dipindahkan ke tempat lain, yang lebih layak dan sehat.
Ada 119 rumah yang terdampak akan direlokasi pada tahap I.
Lalu, menyusul tahap 2 ada 22 unit rumah yang akan direlokasi.
Hal itu dikatakan Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman, saat meninjau Sungai Kurau, Jumat (6/10/2023).
Kepada warga, Algafry mengatakan Sungai Kurau perlu dinormalisasi dan penataan di tepian sungai.
“Proses ini terus berjalan dan kita harapkan pada 2024 nanti, rumah-rumah sudah dibangun,” kata Algafry didampingi Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Bangka Tengah Fani Hendra Saputra.
Warga yang menemui bupati berharap program tersebut dapat terealisasi sesuai rencana pemerintah daerah.
Fani menambahkan penataan kawasaan Sungai Kurau dimulai dari pendataan, penyusunan anggaran, dan realisasi.
Menurutnya, relokasi tersebut sudah masuk dalam program pemerintah dan tinggal tahap realisasi.
“Kita inginnya relokasi ini segera dilakukan karena untuk kepentingan masyarakat. Proses itu terus kita lakukan, dengan dukungan dari berbagai pihak,” kata Fani.







