Kumpulan Puisi KH Zawawi Imron, Sastrawan Asal Madura yang Sangat Fenomenal

ALINEANEWS.COM – Kata-kata yang ditorehkan sastrawan asal Batang-batang, Sumenep, Madura ini sangat luar biasa.

Susunan kata yang membentuk kalimat demi kalimat, membuat yang membacanya seakan terhanyut dalam keindahan kata-kata.

Dia adaah KH Zawawi Imron, yang karya-karyanya tak lekang dimakan usia.

Berikut sejumlah kumpulan puisi karya KH Zawawi Imron.

IBU

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutihkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudra
sempit lauitan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku

(1966)

SENANDUNG NELAYAN

angin yang kini letih

bersujud di pelupuk ibu

laut! apakah pada debur ombakmu

terangkum sunyi ajalku?

oi, buih-buih zaman saling memburu

kali ini doaku lumpuh

gagal mengusap tujuh penjuru

pada siapa ‘kan kulepas napas cemburu?

jika sebutir air mata adalah permata

tolong simpan di jantung telukmu!

dari bisik ke bisik perahu beringsut maju

jika nanti bulan datang menyingkap teka-tekimu

tak sia-sia kujilat luka purba

tempat senyum menetas

jadi iman dan layar

(1976)

BULAN TERTUSUK LALANG

Bulan Tertusuk Lalang

bulan rebah

angin lelah di atas kandang

cicit-cicit kelelawar

menghimbau di ubun bukit

di mana kelak kujemput anak cucuku

menuntun sapi berpasang-pasang

angin termangu di pohon asam

bulan tertusuk lalang

tapi malam yang penuh belas kasihan

menerima semesta bayang-bayang

dengan mesra menidurkannya

dalam ranjang-ranjang nyanyian

(1978)

KERAPAN

1

saronen itu ditiup orang

darah langit jatuh di padang, hatimu yang ditapai menjadi

sarapan siang

biarkan maut menghimbau, karena jejakmu telah diangkut

orang ke sampan

sampai kapan ya, ujung lalang itu menyentuh awan?

ah, harum nangkamu menerbangkanku ke bintang

tapi ekorku panjang disentak anak di bumi

hingga aku turun kembali

2

tanduk yang dibungkus beludru itu jangan dibuka, nanti matahari pecah olehnya

mendung, wahai mendung!

jangan curahkan tangismu

sebelum daun jati sempurna ranggasnya

maka daun-daun siwalan berayun karena angin tak henti bersiul

dan kalau putus nadimu, jangan khawatir

denyutmu akan terus hidup di laut

3

sepasang sapi dengan lari yang kencang membawaku ke garis

kemenangan

arya wiraraja! perlukan aku menang

aku meloncat dan terjun di lapangan

aku tertidur dan mimpiku aneh,

kuterima piala

berupa sebuah tengkorak

yang dari dalam berdentang sebuah lonceng

4

sapi! barangkali engkaulah anak yang lahir tanpa tangis

suaramu jauh malam menderaskan kibaran panji

larimu kencang melangkahi rindu sehingga topan senang

mengecup dahimu

jangan mungkir, bulan telah tidur dalam hatimu

bisikmu lirih menipiskan pisau yang akan memotong lehermu

bila kau tak sanggup berpacu lagi

dari hati tuanmu kini terdengar semerbak bumbu

5

soronen itu masih saja ditiup orang

embun terangkat, kaki-kaki mengalir

dari saujana ke saujana

tuhan!

tanah lapang itu tak seberapa jauh

(1978)

PERJALANAN LAUT 

dalam begini, meski bisa kutebak kabut yang besok akan
meledak, renyai musim labuh akan menunggu kuncup bersujud dalam
kelopak.
hai, camar-camar yang nakal, kenalkah kalian pada merpati
uutih milik pertapa?
bisik-bisik berangkat ke dalam gua, tapi gua itu sepi, ular-
ular pada bernyanyi menuju laut karena wangsit ternyata boneka
cantik yang berisikan bom waktu.
ketika kutulis sajak ini aku tersenyum sendiri karena gagal
meniru teriak gagak.
lampu-lampu memainkan laut, malam memainkan api, jiwaku yang
berpancang bulan sabit kadang mengambang atas pasang dan
tenggelam dalam surut.

(1978)

KETEMU JUGA AKHIRNYA

kucari sosok tubuhmu

pada bias sukma di langit

meski langit tak mungkin secantik kenangan

nyatanya kau termangu di tikung sungai

merenungi percakapan daging dan tulang

ketemu juga akhirnya

bayang-bayang yang akan kekal

terkatung pada ranting penyesalan

kalau besok kubangun bendungan di sungai hijau

maka air harus mengalir

menyusul roh-roh yang belum pulang

(1979)

KOLAM

kutunjukkan padamu sebuah kolam

hai, jangan tergesa engkau menyelam!

di situ sedang mekar setangkai kata

yang para pendeta tak tahu maknanya

dari manakah seekor capung yang biru itu?

ia datang tanpa salam dan pergi tanpa pamitan

tapi ekornya

jelas menuding pusat keheningan

ketika langit jadi gulita

senandung malam makin mendasar

dari kolam itu tumbuh keikhlasan

mengajarkan sujud yang paling tunjam

(1979)

DI BUKIT WAHYU

Tengah hari di bukit wahyu kubaca Puisi-Mu. Aku tak tahu manakah yang lebih biru, langitkah atau hatiku?

“Kun!” perintah-Mu. Maka terjadilah alam, rahmat dan sorga. Bahkan di hidung anjing Kaubedakan sejuta bau.

Dalam jiwaku kini hinggap sehelai daun yang gugur.

Selanjutnya senandung, lalu matahari mundur ke ufuk timur, waktu pun kembali pagi. Di mata embun membias rentetan riwa-yat, mengeja-ngeja desir darahku. ada selubung lepas dariku, angin pun bangkit dari paruh kepodang di pucuk pohon kenanga.

(1979)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *