Pergerakan organisasi kepemudaan telah dan terus menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sejak sebelum kemerdekaan, Sumpah Pemuda 1928 yang diusung oleh kaum muda dari berbagai organisasi berhasil mengukuhkan tiga pusaka yang menyatukan seluruh bangsa menjadi satu kesatuan utuh berdasarkan bangsa, bahasa, dan tanah air.
Tanpa sumpah pemuda, bangsa ini mungkin tidak mengenal persatuan dan kesatuan sebagaimana yang dimaknai pada hari ini. Kekuatan pemuda, adalah kekuatan nyata bagi suatu bangsa.
Proklamasi kemerdekaan, perjuangan mempertahankan diri dari agresi militer Belanda I dan II, perjuangan melawan pemberontak dan upaya kudeta, gelombang demonstrasi mewujudkan reformasi 1998, hingga upaya menerapkan demokrasi yang sehat dewasa ini, semuanya diwarnai oleh perjuangan kaum muda. Tidak dapat disangkal bahwa pernyataan Bung Karno akan kebenarannya, bahwa 10 pemuda dapat mengguncangkan dunia.
Dewasa ini, Indonesia, dan negara-negara di dunia menghadapi tantangan laten yang semakin dekat: isu pemanasan (PBB memperbarui sebagai pendidihan) global, deforestasi, kerusakan dan pencemaran lahan, berkurangnya biodiversitas di darat dan laut, serta ketergantungan manusia terhadap sumber-sumber energi fosil telah membawa peradaban selangkah mendekat pada suatu kiamat iklim, meminjam istilah dari David Wallace-Wells dalam The Uninhabitable Earth: Life After Warming.
Tentu, sebagai sebuah bangsa berpopulasi terbesar keempat di dunia, Indonesia yang hingga saat ini masih demikian bergantung pada energi fosil (sebanyak 78% dari bauran energi) turut berkontribusi pada masalah-masalah global tersebut. Indonesia bahkan telah turut berjanji dan membangun komitmen bersama negara-negara lain untuk mencapai titik nol emisi karbon (Net Zero Emission) pada 2060, yang berarti luaran karbon pada tahun tersebut tidak lebih besar dari yang mampu diserap. Salah satu upaya yang diwujudkan secara konkret, adalah dengan merencanakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Rencana pemerintah untuk membangun PLTN jauh dari kata baru, telah lama, bahkan sangat lama sekali. Presiden Soekarno adalah yang pertama mengemukakan rencana untuk membangun PLTN, lebih dari 70 tahun yang lalu yang segera diikuti oleh pendirian BATAN (sekarang bergabung ke BRIN), menyusul kemudian BAPETEN, dan tiga reaktor riset di Serpong, Bandung, dan Yogyakarta. Namun, pasca rencana pembangunan PLTN di Tanjung Muria era 2000an gagal terlaksana, rencana serupa berhasil mencapai tingkat yang sama hingga saat ini. Rencana PLTN mulai kehilangan urgensinya saat batubara dinilai murah, dan sebelum lima tahun terakhir dikaitkan secara luas terhadap isu pencemaran dan pemanasan global.
Saat ini, momentum pembangunan PLTN telah kembali. Pemerintah menyadarinya. Pemerintah tidak hanya membutuhkan sumber energi yang mudah dan handal, seperti batubara, melainkan juga bersih dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat panjang. Ini adalah sumber energi baseload, penyangga. Lalu, ditengah kebelumpastian teknologi terbarukan yang masih mahal dan memerlukan pengembangan jangka panjang, pemerintah kembali melirik nuklir: Undang-Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan Menengah menyebut Indonesia akan memiliki PLTN pertama antara 2030-2034. Nuklir telah ada di depan mata!
Bahkan, pemerintah telah menetapkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) pada akhir tahun 2024, yang memuat rencana pemerintah untuk mensukseskan transisi energi hingga tahun 2060 mendatang. Bagian yang paling menarik dan baru adalah: Nuklir. Pada 2032, PLTN pertama berdaya sekitar 500 MW akan berdiri di Bangka Belitung. Ini telah tertera dalam RUKN.
Tantangan Klasik
Kendati pemerintah, melalui BATAN, BAPETEN, dan sejumlah organisasi swadaya telah berupaya mendiseminasikan tentang energi nuklir kepada masyarakat, namun fakta di lapangan masih menunjukkan adanya kekhawatiran akan teknologi ‘baru’ tersebut. Kendati, fakta dan statistik menunjukkan bahwa nuklir adalah energi yang paling aman, bahkan memiliki tingkat kematian per terrawatt hour (TWh) jauh lebih rendah dari energi konvensional: batubara, gas, dan minyak bumi.
Alasan-alasan ketakutan bahwa nuklir berbahaya menjadi sama sekali tidak relevan, saat orang-orang yang menyuarakannya disaat yang sama menggunakan batubara, minyak dan gas alam untuk menyalakan peralatan sehari-hari. Nuklir jauh lebih aman, dan lebih dari 30 negara di dunia, dengan 440 PLTN aktif beroperasi, telah membuktikannya.
Meski demikian, tantangan untuk dapat mensosialisasikan kepada masyarakat tetap menjadi kepentingan yang tidak dapat dielakkan, terutama bagi Pemerintah dan setiap organisasi yang bermimpi untuk mensukseskan transisi energi di Indonesia. Apabila dikaitkan lebih jauh, keberadaan nuklir dalam bauran energi juga memiliki urgensitas untuk mendukung Indonesia Emas 2045, yang menurut pemerintah, membutuhkan akselerasi pembangunan untuk mencapai rata-rata pertumbuhan 8% per tahun!
INYS Hadir Untuk Transisi Energi
Soekarno dan Hatta mungkin tidak akan memproklamirkan kemerdekaan di Pegangsaan Timur 56 pada Jum’at pagi, 17 Agustus 1945, apabila Sukarni, Chairul Saleh, Sutan Sjahrir, Wikana, dan kawan-kawan belia yang masih berumur 20-an tahun pada masa itu, tidak melakukan tindakan ekstrem: menculik pada pimpinan PPKI itu untuk dibawa ke Rengasdengklok dan berdebat dengan mereka.
Berapa banyak diantara pada pemuda yang bahkan mungkin masih dianggap ‘bau kencur’ itu yang meyakini bahwa tujuan mereka akan tercapai untuk meyakinkan pada pemimpin bangsa itu setuju memproklamirkan kemerdekaan segera? Atau mungkin mereka akan ditangkap oleh para tentara Jepang yang masih utuh di Indonesia dan dieksekusi?. Mungkin tidak semuanya tahu apa yang akan terjadi, namun semua berkeyakinan sama bahwa: diam tidak akan membawa perubahan apa-apa. Soekarno-Hatta diculik, didebat, dan diamankan ke rumah Laksamana Maeda untuk menyusun naskah proklamasi. Esoknya, bangsa ini lahir dan merdeka.
Bung, lihat! Para pemuda itu yang menyebabkan kemerdekaan bisa terjadi!
Mewujudkan PLTN pertama tentu tidak se-dramatis laksana menculik Soekarno-Hatta. Namun, tidak berarti para pemuda tidak memiliki tujuan untuk melakukan tindakan-tindakan yang mendorong pada tercapainya tujuan itu, salah satunya adalah komunitas pemuda yang berdiri pada 2022 lalu, Indonesia Nuklir Youth Society (INYS).
Gambar 1: INYS, pada pembukaan Festival Nuklir Nasional II (2023)
INYS berdiri pertama kali di Bangka Belitung, oleh dan untuk pemuda, beranggotakan mahasiswa, dan secara aktif mengkampanyekan transisi energi melalui program tahunan rutin: Festival Nuklir Nasional, yang telah diselenggarakan sebanyak 3 kali, masing-masing pada 2021-2022, 2022-2023, dan 2024. INYS juga menjalankan sosialisasi ke sekolah-sekolah, perguruang tinggi, hingga masyarakat dengan satu tujuan voluntir: menyebarkan kebenaran dan informasi akurat tentang energi nuklir.
Pada awal pembentukannya, INYS memiliki 8 Chapter perguruan tinggi, sebelum dipindahkan berdasarkan chapter provinsi. Saat ini, INYS telah memiliki 160 anggota, baik voluntir maupun pengurus, dan telah memiliki kepengurusan yang terpusat di Jakarta, serta empat chapter aktif di Yogyakarta, Bangka Belitung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kendati baru berusia 2 tahun, INYS telah menunjukkan peran dan kontribusinya dalam mewujudkan transisi energi dan mendukung energi nuklir di Indonesia.
Gambar 2: 8 perguruan tinggi pertama saat INYS terbentuk
Pada 2024, INYS meluncurkan buku Nuklir Indonesia: Menuju Transisi Energi dan Indonesia INC yang ditulis oleh tiga anggotanya: Andri Yanto, Faidatul Hikmah, dan Hafizh Akbar, dalam rangkaian agenda pembukaan Festival Nuklir Nasional III di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Buku ini melengkapi sejumlah publikasi INYS sebelumnya, berupa Policy Brief, jurnal ilmiah, dan buku saku untuk pembaca muda di Indonesia.
INYS kini diketuai oleh Ihsan Naufan Ramadhan, dan Sekretaris Jenderal, Andri Yanto. Kepengurusan INYS terdiri atas mahasiswa, pemuda, dan para pekerja muda yang ingin berkontribusi dan berkarya untuk kemajuan bangsa melalui sektor energi.
Dalam upaya pemerintah yang telah semakin konkret mewujudkan PLTN di tanah air, keberadaan INYS dituntut untuk menjadi lebih aktif dan kuat, juga organisasi-organisasi kepemudaan lain yang harus turut bangkit menyuarakan transisi energi di Indonesia.
Ini adalah saatnya, ini adalah momentumnya! Saatnya para pemuda bersuara mendukung transisi energi di Indonesia!
Nuklir energi hijau!
Oleh:
Elsandra











