ALINEANEWS.COM – Maulid Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut Maulid Nabi, merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriah.
Pada tahun 2023, Maulid Nabi jatuh pada tanggal 28 September.
Dalam perhitungan Masehi, Nabi Muhammad SAW lahir pada bulan April tahun 571.
Namun, ada perbedaan pendapat antara tanggal 20 atau 22 April.
Peringatan Maulid Nabi sudah sejak tahun kedua hijriah di kalangan muslim Arab.
Bahkan ada yang meyakini peringatan ini sudah ada ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup.
Dikutip dari baznas.go.id, setidaknya ada dua versi mengenai awal mula peringatan Maulid Nabi SAW.
Pendapat pertama, peringatan Maulid Nabi dilakukan pertama kali saat dinasti Fatimiyah berkuasa.
Lalu pendapat kedua, Maulid Nabi dimulai pada masa Sultan Salahudin Al-Ayyubi.
Salah satu pendapat disampaikan oleh Ahmad Tsauri dalam buku “Sejarah Maulid Nabi” (2015).
Menurutnya perayaan maulid Nabi SAW, sudah dilakukan masyarakat muslim sejak tahun kedua Hijriah.
Catatan tersebut merujuk pada kitab “Wafa’ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa” karangan Nuruddin Ali.
Khaizuran atau Jurasyiyah binti ‘Atha (170 H/786 M) yang merupakan istri Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas juga ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah.
Khaizuran memerintahkan agar penduduk Madinah mengadakan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.
Dari Madinah, Khaizuran kemudian pergi ke Mekah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Mekah untuk merayakan Maulid Nabi SAW di rumah-rumah.
Karena pengaruhnya yang besar itu, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat muslim Arab untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran dan kepemimpinan Nabi SAW dapat terus menginspirasi umat Islam.
Sebagian besar ulama meyakini, Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, Tahun Gajah (570 M).
Maka setiap tanggal tersebut diperingati dengan Maulid Nabi SAW.
Peringatan di Indonesia
Maulid Nabi SAW juga diperingati oleh sebagian kaum muslim di dunia, termasuk Indonesia.
Peringatan Maulid Nabi SAW dilakukan dengan berbagai cara dan ekspresi.
Di masyarakat Jawa, Maulid Nabi dirayakan dengan membaca manakib Nabi SAW di dalam sejumlah kitab seperti Barzanji, Simthud Durar, Diba’, Syaroful Anam, Burdah, dan lainnya.
Selesai itu, biasanya masyarakat menyantap makanan bersama-sama yang disediakan secara gotong royong oleh warga.
Masyarakat Muslim tidak hanya bergembira merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tapi juga bersyukur atas teladan, jalan hidup dan tuntunan yang dibawa oleh beliau.
Di sejumlah tempat, seperti di keraton-keraton di Jawa, peringatan Maulid Nabi biasa disebut dengan Grebeg Mulud.
Di Sulawesi Selatan, Maulid Nabi SAW dirayakan dengan istilah Maudu Lompoa atau Maulid Akbar. Perayaan ini diselenggarakan bahkan lebih ramai daripada hari raya Idul Fitri.
Dalam perayaan tersebut, warga mengarak replika perahu Pinisi yang dihias dengan beraneka ragam kain sarung dan dipamerkan di tepi sungai.
Sejumlah daerah telah terbiasa merayakan Maulid Nabi di sana. Seperti Desa Cikoang, Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Setelah dipamerkan, replika perahu diarak warga keliling desa. Sepanjang acara tersebut tetabuhan gendang atau seni musik Gandra Bulo khas masyarakat lokal terus diperdengarkan.
Maudu Lompoa melambangkan sejarah masuknya Islam di wilayah selatan pulau Sulawesi yang dibawa oleh para pedagang Arab.
Meskipun masih terdapat perdebatan di kalangan ulama terkait perayaan Maulid Nabi ini, tapi bagi kebanyakan umat Islam merayakan Maulid Nabi mempunyai makna spiritual dan edukasi.
Momentum ini menjadi kesempatan bagi kaum muslimin untuk mempelajari lebih jauh tentang kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Sumber:
Ahmad Tsauri, Sejarah Maulid Nabi: 2015







